Puisi III



Sluku Sluku Salik


Waktu seakan gugup


Menyintasi kalut malut pertanyaan


Dia yang tanpa iya ditebak


Menegaskan pewayangan atas dirinya sendiri


Zaman seakan lupa


Atas lupa yang menyengaja


Ketidaktegaan adalah seyogya dia.



Dikau di seberang persimpangan dimensi abstrak 


Titah apa yang Dia berikan?


5/12/21


Perjuangan Kelas Hati


dik, aku bingung dengan hasratku?


ramai, sorak gempita di lembah cetar membahana


akupun ramai di lembahku sendiri


tanpa atap frekuensi tanpa dinding dinding aha ihi tanpa lantai abstraksi


tanggap wacana dedaun menguning dihujani sorot sore si karti


bukan bermaksud matinya lalat lalat lembah


aku pun lalat dengan konsekuensi dadakan.


aku pun lalat serta merta aha ihi


"Omong kosong maksudmu?" Ucap si karti bersamaan semburat menguning.


Nongko Ijo, Kare

9 Desember 21


Mari Kita Mulai


Aku, mencintaimu dengan sederhana,

Tidak ada penyesalan yang pasti.

Aku, mencanangkan bekas bekas sayatan pikirku kedalam cangkir.


"Lah..." betapa tidak berguna mencinta?


Cangkir lalu aku banting,

"Pyarrr..." Aku mencintaimu lagi.


Rasa sakit adalah ia yang tak pernah terkata.

Mencintaimu selayaknya menghirup oxigen bagiku.

Bagaimana mungkin aku tidak sungguh sungguh?


Mencinta adalah jalan dunia manusia sakit.

Kembali, aku mencintaimu dengan sederhana.

Sesegera kulaksanakan, minimal di alam khayalku.


Nongko Ijo, Kare

9 Desember 21

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Konsolidasi rahsa lintas kabupaten dan kota Jawa Timur (AAP) Asoy-Asolole-Pedot

AAP

Antologi