Konsolidasi rahsa lintas kabupaten dan kota Jawa Timur (AAP) Asoy-Asolole-Pedot
![]() |
(Sumber photo: dokumen pribadi Ulil Arzaq) |
DOA YANG LANTANG
Menerka mencari diksi
Menerka mencari narasi
Ini sudah malam yang keseribu, sayang.
Begitu usang kutanggung sebuah penantian.
Diam di sela angin yang bungkam.
Alam mematung menadah hujan.
Luka ini takkan sembuh, sayang.
Kemarin, sebelum dini hari.
Kinasih itu berkabar padaku.
"Hai rinduku, aku rindu tapi aku malu."
Datang begitu saja lewat selebaran narasi
Yang disusunnya, acak-acakan.
Kujawablah rangkaian itu
:barangkali waktu telah mengajarkanmu
Bahwa rasa, dapat disapa
Ketika ia telah purna, sayangku.
Rumi mengajari umat manusia
Bahwa cinta tak berwarna sama.
Bahwa rindu tak harus temu.
Bahwa berserah adalah penutup sesal,
Mujarab, obat atas luka.
Birama kehidupanmu sedang kacau kinasih.
Sadarlah, aku telah mencintaimu dengan terengah-engah.
Mencibir oksigen dengan menjadikanmu,
Satu-satunya udara yang mengisi setiap rongga.
"Kusisipkan simbol tawa.
Syarat akan sedih yang kutahan.
Untuk membalas rindumu".
Kamis 18/01/24.
Bagus sekali puisinya tolong buatkan untuk ku apakah boleh
BalasHapus