Puisi II
Untukmu
Aku mencintaimu dengan sederhana, dik
Dicintai kembali olehmu, bahkan
sama sekali bukan wilayahku.
Apalagi dengan angkuh "Kamu milik ku"
Seperti barang atau jasa saja haha.
Yang jelas, mencintaimu sudah
Kulaksanakan sejak dulu tanpa ini itu
Mohon maaf jika tahapan cintaku tak kunjung
Gamblang untuk sampai & temu.
Salahmu juga tidak bergerak ke awan jati dirimu.
Engkau terlalu nyata untuk pandangan
Tak kasat mata, perhatianmu terlalu ulah untuk alih
Yang jelas, mencintaimu sudah
Kulaksanakan sejak dulu tanpa ini itu
Senormal mungkin tanpa menggebu-gebu.
11/11/22
Ia Yang Meyelamatkanku
Awal malam yang resah. Bagi
sosok pemuda nan malang yang kehilangan asa
di depan ruang tengah indrakila.
Sayup angin pengantar pukul delapan malam
Kemeloteh air hujan tersaji di atas genting,
Menyuguhkan dimensi abstrakal, menghempaskan
ruh jauh ke ruang yang paling dalam.
Wiwitan telah terselenggara, barusan.
Serangkaian wisudha telah kulalui.
Kuingat persis waktu kali pertama
Paving-paving itu kuinjak, lalu lalang
diriku beterbangan merapali tulisan dinding
Pintu kamar pojok masih tergambar lekas
Bau jari gemetarku waktu itu.
Andai aku & andai kamu, dengan sadar blingsatan
Di ubun kepala yang kerap kali mengarah ke lengang.
Memunculkan sosok bayangan yang entah siapa
Tiba-tiba saja muncul dan menarik kembali
Aku, ke dimensi seonggok daging berdiri.
": Aku disini, senantiasa menunggu. Kemana kamu?"
Komentar
Posting Komentar