Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2023

Puisi V

Gambar
  Jenaka Tak ada angin malam ini Rerungu jangkrik mendering, nyaring Menghantar ke pelabuhan sunyi Dari lembah teatrikal hati Dengung kuping telah mengabarkan. Wahai diksana diantara kata Telah menjelma ia, memasuki angan. Menerobos ke hulu terdalam. "Hening, kemudian diluar kamarku" "Berkibar-kibar rindu, hujan kamar ku." ~selamat tidur Madiun, 10/12/23

Puisi IV

Gambar
Dapatkan gambar ini di: Pngtree | Detail lisensi Pembuat: 588ku Kredit: id.pngtree.com Hak Cipta: © Hak Cipta 2017-2023 Pngtree. Fase Lesu Satir kalbu menjuntai lesu Dimalam bercahaya lilin waktu itu Aralnya, nasib merangkai sendu Beriringan bersama rindu, kamu Yang justru membunuhku. Satir kalbu menjuntai lesu Dik, ihwal mana yang menafsirkan Kegaduhan rahwana; sedang menggoda- dirinya sendiri, mewarta: Berdua dan asyik sendiri. Sapaan terakhir itu menyapamu Bacalah, barangkali ia mampu Untuk menutup letihmu. Madiun 08/12/23

Puisi III

Gambar
Sluku Sluku Salik Waktu seakan gugup Menyintasi kalut malut pertanyaan Dia yang tanpa iya ditebak Menegaskan pewayangan atas dirinya sendiri Zaman seakan lupa Atas lupa yang menyengaja Ketidaktegaan adalah seyogya dia. Dikau di seberang persimpangan dimensi abstrak  Titah apa yang Dia berikan? 5/12/21 Perjuangan Kelas Hati dik, aku bingung dengan hasratku? ramai, sorak gempita di lembah cetar membahana akupun ramai di lembahku sendiri tanpa atap frekuensi tanpa dinding dinding aha ihi tanpa lantai abstraksi tanggap wacana dedaun menguning dihujani sorot sore si karti bukan bermaksud matinya lalat lalat lembah aku pun lalat dengan konsekuensi dadakan. aku pun lalat serta merta aha ihi "Omong kosong maksudmu?" Ucap si karti bersamaan semburat menguning. Nongko Ijo, Kare 9 Desember 21 Mari Kita Mulai Aku, mencintaimu dengan sederhana, Tidak ada penyesalan yang pasti. Aku, mencanangkan bekas bekas sayatan pikirku kedalam cangkir. "Lah..." betapa tidak berguna mencinta? ...

Puisi II

Gambar
"Selembar Rindu" by I Wayan Sujana (Suklu) is an original acrylic and ink on canvas painting. Untukmu Aku mencintaimu dengan sederhana, dik Dicintai kembali olehmu, bahkan sama sekali bukan wilayahku. Apalagi dengan angkuh "Kamu milik ku" Seperti barang atau jasa saja haha. Yang jelas, mencintaimu sudah Kulaksanakan sejak dulu tanpa ini itu Mohon maaf jika tahapan cintaku tak kunjung Gamblang untuk sampai & temu.  Salahmu juga tidak bergerak ke awan jati dirimu. Engkau terlalu nyata untuk pandangan Tak kasat mata, perhatianmu terlalu ulah untuk alih Yang jelas, mencintaimu sudah Kulaksanakan sejak dulu tanpa ini itu Senormal mungkin tanpa menggebu-gebu. 11/11/22 Ia Yang Meyelamatkanku Awal malam yang resah. Bagi sosok pemuda nan malang yang kehilangan asa di depan ruang tengah indrakila. Sayup angin pengantar pukul delapan malam Kemeloteh air hujan tersaji di atas genting, Menyuguhkan dimensi abstrakal, menghempaskan ruh jauh ke ruang yang paling dalam. Wiwitan ...

Mabuk

Gambar
Wajah seseorang yang ketakutan sedang menjerit sementara di belakangnya cakrawala yang berwarna merah darah dalam lukisan  Edvard Munch   Jeritan  (dikenal pula sebagai  The Scream ) (1893), Galeri Nasional, Oslo. [07/11/ 11:12 Waktu Setempat ] Konon, arak purba terkenal ampuh Bagi sesiapapun meminumnya seteguk saja Ia mabuk bukan main. " Aku buang anggur hasrat Aku buang anggur kebaikan Aku buang anggur amarah Aku buang anggur penyesalan" Lantas ku ambil arak purba. Ratusan sloki terbang & tak ada tanda Aku memasuki dimensi pusing itu Namun, bukan tentang arak & anggur Juga bukan wanita maupun hamba sahaya Kawan Rasa Sakit Ratusan puisi kutulis sudah. Puluhan cerita kurangkai. Memahamimu? Tak kunjung temu; berkesudah. Hingga kini, sosokmu sulit ku cerna. Miris memang aku, yang ada. Kau tahu yang lebih luka, kinasih? Melihatmu tak ingin hidup. Selayaknya manusia biasa. Unikmu adalah luka yang sempurna untuk dicoba.

Puisi I

Gambar
Sumber photo: Account Deflyne (pixabay.com) Kopi Mampu Memeluk Rindu Atmosfer kian berubah, melengkung S atir-satir itu berkibar maju Nuansa tanah nian panas debu Perlahan melembab ternyamun asa Malam jatuh di hari permulaan senin Tak banyak bintang malam ini Hening menidurkan kepala itu Bertabur, lalu cantiknya wajahmu Secangkir kopi panas Dan selembar klausa jeritan tentangmu. Siap merinduimu, kinasih. 29-08-22 Jepit' isme Angin era berhenti menari Dingin permukaan menggigil Peradaban parkir Sedang simbol-simbol mangkir "murobbi ruh…" Tanpa baju aku ingin lagi  Datang berjibaku luruh Kematian yang syahid itu Tak berani aku, sama sekali Kebenaran didefinisikan sesuai kepentingan masing-masing Sudah alas-alas kaki mencari penentuan Mati, kaki-kaki tak bersandal 24-08-22 Sedang-Berlalu-Akan Risalah bergeming Menumbuk batin, menganiaya sunyi Akal mengganti tugas hati . Tatanan adalah fisik Jalan adalah sunyi Berserah adalah hati Selamat atas kepuasan anda. Malamku biasa-bia...

Ibid

  Lilaku Lila Tanpa Karena Aku, adalah gumpalan nafsu.  Di mana seluruh hasrat-kotor adalah, aku.  Kamu, adalah yang tak terukur.  Dengan segala ukuran jahit penyair.  Dengan seluruh sudut pandang pemikir.  Kelancangan yang manalagi, aku.  Disuruh mendeskripsikan kamu; kekasih babadan 17/okt/21

Menyadari Naif

Dipeluk malam yang bersyarat Disapa oleh gerimis kenangan Melihat temaram, bersamamu. Untuk pertama kalinya, dan mungkin Menjadi terakhir kalinya. Walau bersemayam segumpal ruh Keinginan hati berbunyi :bisakah selalu begini, setiap hari. "Bakar aku" ;ucap sebatang rokok di jemari Yang kemudian menyadarkanku Yang asli, ada badaknya, hm. Jl. Hos Cokroaminoto 13/11/23

Menyapa Konser

Gambar
  Menyembah Ponsel Menjadi gelak renung, seorang salik Riuh jajakan kresek-kresek beterbangan Asa bertemu baku Tangis nafsu bertemu waktu Berkiblat zonasi merengkuh abdi Bergerilya mengempu pribadi, katanya. Sedang baju terjahit, berkabar :aku telah kembali, tak perlu khawatir. Si cangkir telah datang bersama Juluran tangan, dengan bahasa adanya: ```Kopi moass…!``` ```Dengan saya, sekelas susahnya.``` Purwosari 9-11-23

Rindu itu Mendatangimu

  datang: sayu ruhiyat di taman lenggana. mencerca gulatama para pecinta diantara ruang dan sekat-sekat kalbu telah hadir panorama mendung, hujan menyusun kembali tatanan, berAku. anjungan yang bebas dari tikar-tikar tamu masihkah jaring-jaring mampu menari dengan goyangan tanpa kebohongan semangat tanpa bias harap lencana. berjalan bijak tanpa ratapan. sayu, ruhiyat di taman lenggana. naluri tuhan telah terhenti. menyingsing, dengan lengan terlengkit. nahas, hujan nanar yang kian mendasar. keesokannya: kartika mengukus di anjungan sore. murung, diantara kalud rahsa. lelantung menerpa angin. memakan debu. dari rindu pasir jalanan--denganmu. si golo-golo, 8-11-23 mad