Postingan

AAP

Gambar
Ilustrasi: Jpg.Lukisan Bersembunyi (account: CDD20) Sumber: https://pixabay.com/id/illustrations/bersembunyi-air-lubang-kesunyian-4054997/ BELATI EGO Mad: Beberapa rindu, memang tak terlampiaskan Penuh, di media temu. Beberapa tikar temu juga tak selalu Memberikan waktu. Barangkali Penuntasan atas rindu adalah aku-kamu Telah selesai dengan terkaan-terkaan semu Dan disuatu hari jasad pun bertemu Untuk mengkonfirmasi hal itu. Sehingga, Menatap wajahmu bukanlah issue.... Rizki: Dalam kegelapan malam yang bisu Bintang-bintang tak terpositivkan di langit luas. Gelap yang merayap dalam relung hati Sebuah cerita yang tak terucap di mata. Bayangan malam membawa misteri Rahasia yang tersembunyi dalam senja. Dalam diamnya malam, hati berbisik :cerita malam yang tak terungkapkan... Via Zoom 23/01/24

AAP

Gambar
Lukisan: Iryna Calinicenco (Cairyna)-Moldova Get on copyright: Saatchi Art TAK ADA YANG MAMPU MENIDURKANMU [02.08 AM] Farid: Ternyata bagi yang terbiasa sedih, Bahagia adalah sebuah masalah Dan aku menyukai pembunuhan sukma yang berencana. Seperti ini setiap malam. Engkau mencari diksi hanya demi menyambung sanubari, Lalu cintai aku seperti kau mencintai kata kata mu. [02.12 AM] Ulil: Aku hanya kesal di kesepian. Aku ingin bermanfaat dan syaratnya Adalah dimanfaatkan. Aku tak pernah dimanfaatkan, kinasih. Padahal aku kepingin dimanfaatkan. Apakah dengan pindah taman Atau bulan mampu mengatasi ini. [02.15 AM] Farid: Klimaks yang engkau katakan padaku Hanya bualan semata. Coba bicarakan pada bulan Dan rumput yang bergoyang. Engkau hanya butuh sumur Yang harus ditimba airnya. Tapi sayang, di taman bermainmu sedang surut Akan air seni itu lantas Kenapa tak kau buat sumur mu sendiri. Wadahi mahkluk semesta. Dan biarkan mereka menimba air sumurmu. [02.25 AM] Ulil: Ia datang dengan setumpuk s...

Konsolidasi rahsa lintas kabupaten dan kota Jawa Timur (AAP) Asoy-Asolole-Pedot

Gambar
  (Sumber photo: dokumen pribadi Ulil Arzaq) DOA YANG LANTANG Menerka mencari diksi Menerka mencari narasi Ini sudah malam yang keseribu, sayang. Begitu usang kutanggung sebuah penantian. Diam di sela angin yang bungkam. Alam mematung menadah hujan. Luka ini takkan sembuh, sayang. Kemarin, sebelum dini hari. Kinasih itu berkabar padaku. "Hai rinduku, aku rindu tapi aku malu." Datang begitu saja lewat selebaran narasi Yang disusunnya, acak-acakan. Kujawablah rangkaian itu :barangkali waktu telah mengajarkanmu Bahwa rasa, dapat disapa Ketika ia telah purna, sayangku. Rumi mengajari umat manusia Bahwa cinta tak berwarna sama. Bahwa rindu tak harus temu. Bahwa berserah adalah penutup sesal, Mujarab, obat atas luka. Birama kehidupanmu sedang kacau kinasih. Sadarlah, aku telah mencintaimu dengan terengah-engah. Mencibir oksigen dengan menjadikanmu, Satu-satunya udara yang mengisi setiap rongga. "Kusisipkan simbol tawa. Syarat akan sedih yang kutahan. Untuk membalas rindumu...

Antologi

Gambar
(Sumber: dokumen pribadi Ulil Arzaq) PERHELATAN YANG MANGKIR [17/01 02.17 AM] Jamal: Didalam labirin cinta yang rumit Hatiku mendung, kacau. Tak tahu harus kemana arahnya Cintaku sekarang seperti signal wifi Terhubung sebentar, lalu hilang tanpa kabar  [17/01 02.05 AM] Ulil: ia hanya memberi rasa luka bukan untuk menaruh rasa bersama memilikinya sekalipun fana aku tak enggan untuk bermain luka [17/01 02.22 AM] Rizki: Cinta bukanlah labirin, dan Cinta juga bukanlah rasa, Nietzsche berkata cinta  itu penyakit Ia membuat orang orang lemah dihadapannya, Sangat pantas kalo para bung kelalawar Malam ini kena penyakit itu. Sepertinya karena terlalu lelah begadang, dan Mencari signal keberadaan Nya. [17/01 02.25 AM] Walid: "Ada sebelum tiada kemudian ada menjadi ada untuk tiada kemudian." [17/01 02.28 AM] Jamal: "Dosa terbesar seorang pecinta adalah ketika ia jauh dari kekasihnya dikala hujan tapi ia tak menghasilkan puisi".

Puisi V

Gambar
  Jenaka Tak ada angin malam ini Rerungu jangkrik mendering, nyaring Menghantar ke pelabuhan sunyi Dari lembah teatrikal hati Dengung kuping telah mengabarkan. Wahai diksana diantara kata Telah menjelma ia, memasuki angan. Menerobos ke hulu terdalam. "Hening, kemudian diluar kamarku" "Berkibar-kibar rindu, hujan kamar ku." ~selamat tidur Madiun, 10/12/23

Puisi IV

Gambar
Dapatkan gambar ini di: Pngtree | Detail lisensi Pembuat: 588ku Kredit: id.pngtree.com Hak Cipta: © Hak Cipta 2017-2023 Pngtree. Fase Lesu Satir kalbu menjuntai lesu Dimalam bercahaya lilin waktu itu Aralnya, nasib merangkai sendu Beriringan bersama rindu, kamu Yang justru membunuhku. Satir kalbu menjuntai lesu Dik, ihwal mana yang menafsirkan Kegaduhan rahwana; sedang menggoda- dirinya sendiri, mewarta: Berdua dan asyik sendiri. Sapaan terakhir itu menyapamu Bacalah, barangkali ia mampu Untuk menutup letihmu. Madiun 08/12/23

Puisi III

Gambar
Sluku Sluku Salik Waktu seakan gugup Menyintasi kalut malut pertanyaan Dia yang tanpa iya ditebak Menegaskan pewayangan atas dirinya sendiri Zaman seakan lupa Atas lupa yang menyengaja Ketidaktegaan adalah seyogya dia. Dikau di seberang persimpangan dimensi abstrak  Titah apa yang Dia berikan? 5/12/21 Perjuangan Kelas Hati dik, aku bingung dengan hasratku? ramai, sorak gempita di lembah cetar membahana akupun ramai di lembahku sendiri tanpa atap frekuensi tanpa dinding dinding aha ihi tanpa lantai abstraksi tanggap wacana dedaun menguning dihujani sorot sore si karti bukan bermaksud matinya lalat lalat lembah aku pun lalat dengan konsekuensi dadakan. aku pun lalat serta merta aha ihi "Omong kosong maksudmu?" Ucap si karti bersamaan semburat menguning. Nongko Ijo, Kare 9 Desember 21 Mari Kita Mulai Aku, mencintaimu dengan sederhana, Tidak ada penyesalan yang pasti. Aku, mencanangkan bekas bekas sayatan pikirku kedalam cangkir. "Lah..." betapa tidak berguna mencinta? ...

Puisi II

Gambar
"Selembar Rindu" by I Wayan Sujana (Suklu) is an original acrylic and ink on canvas painting. Untukmu Aku mencintaimu dengan sederhana, dik Dicintai kembali olehmu, bahkan sama sekali bukan wilayahku. Apalagi dengan angkuh "Kamu milik ku" Seperti barang atau jasa saja haha. Yang jelas, mencintaimu sudah Kulaksanakan sejak dulu tanpa ini itu Mohon maaf jika tahapan cintaku tak kunjung Gamblang untuk sampai & temu.  Salahmu juga tidak bergerak ke awan jati dirimu. Engkau terlalu nyata untuk pandangan Tak kasat mata, perhatianmu terlalu ulah untuk alih Yang jelas, mencintaimu sudah Kulaksanakan sejak dulu tanpa ini itu Senormal mungkin tanpa menggebu-gebu. 11/11/22 Ia Yang Meyelamatkanku Awal malam yang resah. Bagi sosok pemuda nan malang yang kehilangan asa di depan ruang tengah indrakila. Sayup angin pengantar pukul delapan malam Kemeloteh air hujan tersaji di atas genting, Menyuguhkan dimensi abstrakal, menghempaskan ruh jauh ke ruang yang paling dalam. Wiwitan ...

Mabuk

Gambar
Wajah seseorang yang ketakutan sedang menjerit sementara di belakangnya cakrawala yang berwarna merah darah dalam lukisan  Edvard Munch   Jeritan  (dikenal pula sebagai  The Scream ) (1893), Galeri Nasional, Oslo. [07/11/ 11:12 Waktu Setempat ] Konon, arak purba terkenal ampuh Bagi sesiapapun meminumnya seteguk saja Ia mabuk bukan main. " Aku buang anggur hasrat Aku buang anggur kebaikan Aku buang anggur amarah Aku buang anggur penyesalan" Lantas ku ambil arak purba. Ratusan sloki terbang & tak ada tanda Aku memasuki dimensi pusing itu Namun, bukan tentang arak & anggur Juga bukan wanita maupun hamba sahaya Kawan Rasa Sakit Ratusan puisi kutulis sudah. Puluhan cerita kurangkai. Memahamimu? Tak kunjung temu; berkesudah. Hingga kini, sosokmu sulit ku cerna. Miris memang aku, yang ada. Kau tahu yang lebih luka, kinasih? Melihatmu tak ingin hidup. Selayaknya manusia biasa. Unikmu adalah luka yang sempurna untuk dicoba.

Puisi I

Gambar
Sumber photo: Account Deflyne (pixabay.com) Kopi Mampu Memeluk Rindu Atmosfer kian berubah, melengkung S atir-satir itu berkibar maju Nuansa tanah nian panas debu Perlahan melembab ternyamun asa Malam jatuh di hari permulaan senin Tak banyak bintang malam ini Hening menidurkan kepala itu Bertabur, lalu cantiknya wajahmu Secangkir kopi panas Dan selembar klausa jeritan tentangmu. Siap merinduimu, kinasih. 29-08-22 Jepit' isme Angin era berhenti menari Dingin permukaan menggigil Peradaban parkir Sedang simbol-simbol mangkir "murobbi ruh…" Tanpa baju aku ingin lagi  Datang berjibaku luruh Kematian yang syahid itu Tak berani aku, sama sekali Kebenaran didefinisikan sesuai kepentingan masing-masing Sudah alas-alas kaki mencari penentuan Mati, kaki-kaki tak bersandal 24-08-22 Sedang-Berlalu-Akan Risalah bergeming Menumbuk batin, menganiaya sunyi Akal mengganti tugas hati . Tatanan adalah fisik Jalan adalah sunyi Berserah adalah hati Selamat atas kepuasan anda. Malamku biasa-bia...

Ibid

  Lilaku Lila Tanpa Karena Aku, adalah gumpalan nafsu.  Di mana seluruh hasrat-kotor adalah, aku.  Kamu, adalah yang tak terukur.  Dengan segala ukuran jahit penyair.  Dengan seluruh sudut pandang pemikir.  Kelancangan yang manalagi, aku.  Disuruh mendeskripsikan kamu; kekasih babadan 17/okt/21

Menyadari Naif

Dipeluk malam yang bersyarat Disapa oleh gerimis kenangan Melihat temaram, bersamamu. Untuk pertama kalinya, dan mungkin Menjadi terakhir kalinya. Walau bersemayam segumpal ruh Keinginan hati berbunyi :bisakah selalu begini, setiap hari. "Bakar aku" ;ucap sebatang rokok di jemari Yang kemudian menyadarkanku Yang asli, ada badaknya, hm. Jl. Hos Cokroaminoto 13/11/23